|
  Event
News
Saat BBM makin 'menjerit' berimbas ke sektor transportasi, Djoko Sutrisno warga Pakuncen Jl HOS Cokroaminoto No 76 Yogyakarta menemukan solusi mahalnya BBM itu dengan hydrogen generator. Sebuah tabung elektrolizer plastik berisi air murni atau aquades, dilengkapi dengan elektrodae (berbahan stainless stell) dan diode atau reley (pada mobil), difungsikan sebagai pengubah molekul hidrogen menjadi energi. Melalui proses elektrolisa pengatur tekanan menuju manifold (kran plastik), sistem pembakaran mesin akan mendekati sempurna.
Alat itu bukan bertujuan membuat irit bahan bakar, namun justru dijadikan bahan mengganti premium maupun solar. Untuk ke depannya, Joko akan
memaksimalkan penggunaan air atau sehingga motor akan 100 persen melaju dengan tenaga hydro.
Bukan Mimpi
Temuan Joko Sutrisno itu bukan mimpi. Faktanya, setiap hari puluhan mobil dan
motor antre di rumahnya, yang minta agar alat sederhana ciptaannya dipasang pada kendaraan mereka. Harganya pun tidak mahal, yakni Rp 75.000 untuk motor
dan Rp 150.000 untuk mobil, dan proses pemasangannya pun tak berbelit-belit,
paling lama setengah jam.
Bahkan, Sutrisno sendiri mengaku telah menggunakan alat itu pada mobil pribadinya selama dua tahun. "Saya uji coba dengan mobil saya sendiri dan sudah berlangsung 2 tahun tanpa masalah, meski dulu saya sering dikatai orang gila," katanya.
Harapan LIPI
Menurut Kepala Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Dr Achiar Oemry, informasi tentang air menjadi bahan bakar sudah lama ada di luar negeri seperti di Jepang dan India.
"Secara teori air menjadi bahan bakar memang bisa diwujudkan dan dipertangungjawabkan. Yakni dengan mengurai air menjadi hidrogen," ujar Achyar di Jakarta.
Menurut Achiar Oemry, air bisa menggantikan fungsi BBM untuk menggerakkan kendaraan. Oemry menjelaskan, air yang memiliki rumus kimia H2O mengandung dua unsur molekul, yakni hidrogen (H) dan oksigen (O). Dengan menggunakan mekanisme pemisahan yang sangat sederhana, molekul hydrogen dapat dipisahkan dari air yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar utama untuk menggerakkan kendaraan
Oemry yang juga Ketua Konsorsium Fuel Cell Indonesia mengemukakan, sudah ada beberapa negara yang mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan ini, seperti Tiongkok dan Jepang. Bahkan kedua negara tersebut, sudah melakukan ekspor kendaraan yang didesain menggunakan bahan bakar hidrogen.
Mengomentari adanya temuan-temuan masyarakat mengenai bahan bakar air akhir-akhir ini, Oemry mengaku, secara pribadi mendukung hal tersebut meskipun LIPI belum melakukan pengujian terhadap teknologi tersebut. Dia mengatakan, sebenarnya Indonesia sudah bisa mengubah kebiasaan menggunakan BBM menjadi bahan bakar hydrogen.
"Teknologinya sudah ada. Sekarang yang menjadi masalah adalah kebijakan politik pemerintah, mau tidak mengembangkan teknologi pemanfaatan air menjadi bahan bakar kendaraan bermotor ini," ujarnya
Ketika ditanyakan mengapa tidak dipatenkan saja temuannya itu. Djoko mengatakan tidak perlu, kalau ada orang mau meniru atau memanfaatkan teknologi aeperti itu tidak ada masalah. "Semua orang kan berhak. Ilmu itu yang penting bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Saya tidak berpikir masalah paten," kata Djoko.
Dari rekan reza imran juga mengaplikasi tabung berbahan stainless telah masuk
ke rancangan grade 3 ( more safe and more lasting and morreeee power and moreeeeee friendly user ).
Hal senada dengan aplikasi diatas Herman Subiyantoro, dari Semarang juga menjelaskan teknis memisahkan H2O menjadi Hidrogen & Oksigen (Brown's Gas)...efektif sekali dipasang di mesin hingga konsumsi BBM tercatat 1:14.
Agaknya krisis ini malah memecut kreatifitas teman-teman sebangsa utk menciptakan teknologi baru... Hebat..
Mari kita tunggu hasil Grade terakhir di JAMBORE NASIONAL II di Wonosobo,
Jawa Tengah pada 5 dan 6 JULI 2008 nanti.
Berita dari : kodoq72, SP
©
Copyright 2002 vw-indonesia.com
|